Kisah Maria Walanda Maramis Mendidik Perempuan Minahasa

Terlahir dari keluarga yang kurang mampu, didiskriminasi karena menjadi wanita, Maria Walanda Maramis benar-benar berjuang untuk membebaskan bangsanya dari pendidikan terbelakang. Judul pahlawan nasional layak di bawa.

Maria lahir pada tanggal 1 Desember 1872 di Kema Sulawesi Utara. Oleh orang tuanya, pasangan Bernadus Maramis dan Sarah Rotinsulu, dia diberi nama lengkap Maria Josephine Catharina Maramis. Maria adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Seorang saudari bernama Antje, dan seorang saudara laki-laki bernama Andries Alexander Maramis atau yang kemudian dikenal sebagai saah pahlawan nasional AA Maramis.

“Pasangan Bernadus dan Sarah tinggal hanya sebagai keluarga lain yang tinggal di desa Kema, pantai timur Minahasa .. Karya Maramis adalah pedagang yang memanfaatkan hari pasar di pantai saat pelabuhan Kema sibuk,” kata sejarawan Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado, Ivan RB Kaunang saat diwawancarai.

Tidak ada data barang dagangan apapun yang diperdagangkan oleh Pak Maramis. Dia baru saja menyebutkan bekerja sebagai pedagang. Juga tidak dikenal sebagai pedagang grosir atau pedagang kecil. Namun, sudah pasti barang yang dijual adalah produk kelautan dan pertanian atau barang lainnya. Barang tersebut dipertukarkan dengan pedagang lain yang ditemui saat pengiriman tiba di pelabuhan Kema.

“Jadi bisa disimpulkan bahwa keluarga ini hidup dalam kesederhanaan,” kata Ivan.

Pada usia 6, orang tua Maria meninggal berturut-turut di tahun yang sama karena kolera. Maria menjadi yatim piatu dengan kedua saudara laki-lakinya. Bersama dua saudara laki-lakinya, dia dibesarkan dan dibesarkan oleh pamannya Essau Rotinsulu, dan tinggal di Airmadidi, Minahasa Utara.

“Maria hanya bisa menyelesaikan tiga tahun bersekolah di People’s School atau Native School, yang tidak dapat melanjutkan pendidikan tinggi, adik laki-lakinya, Andries, akhirnya dikirim kepadanya oleh pamannya ke Hoofdenschool atau sekolah raja Tondano,” kata Ivan.

Essau, Paman Maria adalah bupati dan dihormati. Rumah pamannya sering dikunjungi oleh banyak orang, mulai dari petani, nelayan, hingga mereka yang berpendidikan, guru dan penulong (guru agama) dari Injil. Tidak hanya itu, banyak pejabat juga sering berkunjung ke rumah pamannya, seperti sesama bupati atau utusan dari Residen Manado yang berbasis di Manado.

“Di rumah pamannya, Maria hampir menghabiskan seluruh masa remajanya, pemuda dalam hidupnya, bahagia atau tidak senang, Maria harus bisa menjalani hidup ini,” kata Ivan.

Langsung atau tidak langsung menyambut tamu, menyapa tamu, menyambut tamu, mengatur rumah tangga dan sebagainya, berangsur-angsur mulai berakting Maria. Istri pamannya memberi Maria dan Antje tempat untuk mempelajarinya. Begitu pun dengan cara untuk melihat, mulai dari kepala sampai kaki dan estetika seluruh tubuh harus diperhatikan.

“Mary tidak hanya bisa memasak makanan sehari-hari, makanan khas Minahasa, tapi juga tahu cara memasak makanan dari Eropa, dari sini dia belajar keterampilan,” kata Ivan, menambahkan bahwa pengetahuan dan keterampilan yang dia dapatkan kemudian digunakan untuk mendidik. Wanita Minahasa.

Maria mengakhiri masa mudanya saat diedit oleh pemuda Jozef Frederik Calusung Walanda, seorang guru yang baru saja menyelesaikan studinya di Pendidikan Guru di Ambon. Pada tanggal 22 Oktober 1891 atas restu orang tuanya, dan terutama pamannya, Mayor Ezau Rotinsulu, Maria Josephine Catherina Maramis kemudian menikahi Jozef Frederik Calusung Walanda di rumah gereja di Maumbi.

“Di Maumbi Mary ini berkenalan dengan seorang pendeta Belanda, Ten Hoeve dan istrinya, Maria kemudian belajar lebih banyak tentang keterampilan Nyonya Hoeve,” Ivan menambahkan.

Begitu pentingnya pendidikan, untuk itu anda bisa mencoba les privat medan jika ingin meningkatkan pendidikan anak anda.